Teori Stakeholder dan Teori Sinyal

Teori Stakeholder

Teori stakeholder menekankan akunta­bilitas organisasi jauh melebihi kinerja keuangan atau ekonomi sederhana. Teori ini menyatakan bahwa organisasi akan memilih secara sukarela mengungkapkan informasi tentang kinerja lingkungan, sosial dan intelektual mereka, melebihi dan di atas permintaan wajibnya, untuk memenuhi ekspektasi sesungguhnya atau yang diakui oleh stakeholder (Deegan et al., 2000 dalam  Rokhlinasari, 2016). Teori stakeholder mengasumsikan bahwa eksistensi perusa­haan memerlukan dukungan stakeholder, sehingga aktivitas perusahaan juga mempertimbangkan persetujuan dari stakeholder. Semakin kuat stakeholder, maka perusahaan harus semakin beradaptasi dengan stakeholder. Pengungkapan CSR kemudian dipandang sebagai dialog antara perusahaan dengan stakeholder (Rokhlinasari, 2016).    Teori stakeholder lebih mempertimbangkan posisi para stakeholder yang dianggap lebih powerfull. Kelompok stakeholder inilah yang menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan dalam mengungkapkan dan/tidak mengungkapkan suatu informasi dalam laporan keuangan (Belkaoui, 2003 dalam Ajilaksana, 2011).

Teori Sinyal

Teori sinyal menekankan kepada pentingnya informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan terhadap keputusan investasi pihak di luar perusahaan. Informasi merupakan catatan penting suatu perusa­haan baik di masa lalu, saat ini maupun di masa yang akan datang. Teori sinyal menunjukkan adanya asimetris informasi antara manajemen perusahaan dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan informasi tersebut dan mengemukakan tentang bagaimana perusahaan memberikan sinyal-sinyal kepada pengguna laporan keuangan (Siregar, 2013). Jama’an (2008) menyatakan bahwa teori sinyal mengemukakan tentang bagaimana sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang telah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik.

Contoh penyampaian informasi melalui signaling yaitu pencapaian informasi laba yang diukur dengan koefisien respon laba atau  earning response coefficient (ERC) dan informasi-informasi dalam laporan tahunan perusahaan khususnya informasi mengenai pengungkapan CSR atau Corporate Social Responsibility Disclosure (CSRD) yang diharapkan dapat memberikan informasi mengenai prospek perusahan dimasa depan pada investor (Adisusilo, 2011). Sinyal berupa pengungkapan laba akuntansi oleh perusahaan merupakan cara manajemen dalam mengkomunikasikan kinerja perusahaan dalam jangka pendek. Untuk mengukur reaksi investor terhadap pengumuman laba akuntansi digunakan koefisien respon laba atau earning response coefficient (ERC). Laba yang berkualitas adalah laba yang tidak menimbulkan gangguan persepsi dan mencerminkan kinerja keuangan yang sebenarnya tanpa rekayasa. Laba yang tinggi merupakan kabar baik bagi invstor. Tetapi, laba yang tinggi tidak cukup untuk memprediksi prospek perusahaan di masa depan sehingga akan dibutuhkan informasi lain yang dapat dipertimbangkan sebagai acuan, misalnya informasi CSR (Adisusilo, 2011).

Sumber Pustaka

  • Rokhlinasari, Sari. 2016. Teori –Teori dalam Pengungkapan Informasi Corporate Social Responbility Perbankan. Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
  • Ajilaksana, I Dewa Ketut Yudyadana. 2011. Pengaruh Corporate Social        Responsibility Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan. Skripsi. Semarang: Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. Dipublikasikan.
  • Siregar, Ivana. 2013. Hubungan Antara Kinerja Lingkungan dan Kinerja Komite Audit dengan Kualitas Pengungkapan Corporate Social Responsibility (Pada Perusahaan Manufaktur di BEI). Jurnal Akuntansi dan Keuangan. Vol. 4 (1), Hal. 63-81. Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Lampung.
  • Jamaa’an. 2008. Pengaruh Mekanisme Corporate Governance dan Kualitas Kantor Akuntan Publik Terhadap Integritas Informasi Laporan Keuangan (Studi Kasus Perusahaan Publik Yang Listing di BEJ). Universitas Diponegoro, Semarang.
  • Adisusilo, Pramudito. 2011. Pengaruh Pengungkapan Informasi Corporate Social Responsibility (CSR) Dalam Laporan Tahunan Terhadap Earning Response Coefficients (ERC) (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2009). Skripsi. Semarang: Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro. Dipublikasikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *