Senjangan Anggaran (Budgetary Slack)

Senjangan anggaran merupakan perbedaan antara jumlah yang dianggarkan dengan biaya dan pengeluaran yang seharusnya (Dunk & Perera, 1997 dalam Fitri, 2004). Sedangkan menurut Young (1985) senjangan anggaran merupakan tindakan bawahan yang mengecilkan kapabilitas produktifnya ketika dia diberi kesempatan untuk menentukan standar kerjanya. Anthony dan Govindarajan (2005) mendefinisikan senjangan anggaran sebagai perbedaan antara anggaran yang dilaporkan dengan anggaran yang sesuai dengan estimasi terbaik bagi perusahaan. Hal ini dilakukan dengan menentukan penerimaan yang lebih rendah dan menganggarkan biaya yang lebih tinggi dari kemampuan yang sesungguhnya, tujuannya agar target dapat mudah dicapai bawahan.

Ikhsan dan Ishak (2005) menyatakan bahwa proses partisipasi memberikan kekuasaan kepada para manajer untuk menetapkan isi dari anggaran mereka. Kekuasaan ini bisa digunakan dengan cara yang memiliki konsekuensi disfungsional bagi organisasi itu. Sebagai contoh, para manajer bisa memasukkan “slack organisasional” ke dalam anggaran mereka. Slack adalah selisih antara sumber daya yang sebenarnya diperlukan untuk secara efisien menyelesaikan suatu tugas dan jumlah sumber daya yang lebih besar yang diperuntukkan bagi tugas tersebut. Dengan kata lain, slack adalah penggelembungan anggaran. Selanjutnya Ikhsan dan Ishak (2005) mengatakan bahwa para manajer melakukan slack dalam anggaran mereka untuk menyediakan suatu margin keselamatan (margin of safety) untuk memenuhi tujuan yang dianggarkan. Dasarnya berupa sumber daya ekstra ini menghilangkan tekanan dan frustasi yang berkaitan dengan anggaran, yang sering kali didorong oleh anggaran yang ketat.

Blanchette et al., (2002) menyebutkan empat kondisi penting sehingga senjangan anggaran dapat terjadi. Pertama, terdapat informasi asimetri antara manajer (bawahan) dengan atasan mereka. Sebaliknya jika atasan mampu untuk memprediksi kinerja potensial manajer, maka manajer tidak dapat mengusulkan sasaran budget yang berbeda. Kedua, kinerja manajer tidak pasti. Jika terdapat kepastian dalam kinerja, maka artinya atasan dapat menduga usaha manajer melalui output mereka, sehingga senjangan anggaran akan sulit dilakukan. Ketiga, manajer mempunyai kepentingan pribadi. Keempat, adanya konflik tujuan antara manajer dengan atasan mereka. Sedangkan menurut Luthan (1998) senjangan anggaran timbul karena keinginan dari subordinates dan superior yang tidak sama, terutama jika kinerja subordinates dinilai berdasarkan pencapaian target anggaran.

Para peneliti berpendapat bahwa bawahan berusaha menciptakan senjangan (slack) dalam anggaran perusahaan selama proses penyusunan anggaran dengan memasukkan perkiraan atau peramalan yang bias terhadap kondisi operasi perusahaan di masa mendatang (Lukka, 1988; Onsi, 1973 dalam Amrul dan Nasir, 2002). Menurut Schiff dan Lewin (1970), bawahan berusaha menciptakan senjangan anggaran dengan melaporkan pendapatan yang terlalu rendah (understated) atau biaya yang terlalu tinggi (overstated). Pendekatan ini mengasumsikan bahwa bawahan dipengaruhi oleh keinginan/kepentingan pribadi dan mereka berpendapat bahwa anggaran akan mudah dicapai dengan menerima adanya senjangan (slack). Kinerja dari manajemen biasanya diukur berdasarkan pada pencapaian target anggaran. Konsekuensinya, gaji, bonus dan prospek karir akan meningkat jika manajer tersebut mampu memenuhi target anggaran. Namun bagi manajer yang tidak mampu mencapai target tersebut, akan menghadapi intervensi dari manajemen pada tingkat yang lebih tinggi, seperti kehilangan bonus, kehilangan kepercayaan bahkan bisa saja kehilangan pekerjaan (Merchant & Manzoni, 1989 dalam Fitri, 2004). Dalam kondisi seperti ini, manajer mencari cara untuk melindungi dirinya dari resiko tidak tercapainya target anggaran (Schiff & Lewin, 1970). Salah satu caranya yaitu dengan melakukan slack (senjangan) pada anggaran.

Jika tujuan anggaran terlalu mudah untuk dicapai karena adanya slack, maka manfaat motivasional menjadi minimal atau tidak ada sama sekali (Ikhsan & Ishak, 2005).

Orang mungkin menghasilkan kurang dari tingkat kapabilitas optimal mereka. Sebaliknya jika tujuan anggaran terlalu sulit untuk dicapai dan kinerja aktual mulai menyimpang secara tidak menguntungkan dari standar, orang akan mencoba memperbaiki kinerja mereka pada awalnya. Intinya adalah bahwa anggaran yang terlalu ketat atau terlalu longgar atau disusun dengan slack yang berlebihan atau tanpa slack sama sekali dapat menciptakan tanggapan keprilakuan yang berlawanan dengan kepentingan perusahaan. Harus ada kehati-hatian dalam memastikan bahwa dokumen anggaran akhir menghindari kekurangan yang berkaitan dengan anggaran yang terlalu ketat atau terlalu longgar.

Sumber Pustaka

  • Fitri, Yulia. 2004. Pengaruh Informasi Asimetri, Partisipasi Penganggaran dan Komitmen Organisasi Terhadap Timbulnya Senjangan Anggaran. Simposium Nasional Akuntansi VII, Denpasar.
  • Anthony, Robert dan Vijay Govindarajan. 2005. Sistem Pengendalian Manajemen. Jakarta: Salemba Empat.
  • Ikhsan, Arfan dan Muhammad Ishak. 2005. Akuntansi Keprilakuan. Jakarta: Salemba Empat.
  • Blanchette, Danielle; Claude Pilote dan Jean Cadieux.2002. Manager’s Moral Evaluation of Budgetary Slack Creation.http:\\www. accounting.rutger .edu\raw.
  • Luthans, Fred. 2005. Organization Behavior. Tenth Edition: Published McGraw Hill.
  • Amrul, Sadat dan Moch. Nasir. 2002. Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Ketidakpastian Lingkungan Terhadap Hubungan Antara Partisipasi Penganggaran dengan Senjangan Anggaran. Simposium Nasional Akuntansi V, Semarang.
  • Schiff, M dan A.Y. Lewin. 1970. The Impact of People on Budget.The Accounting Review Vol 45, Oktober, 259-268.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *